Jumat, 22 Januari 2010

Waktu

Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?….
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.

Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.


Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.

Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?

Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.

Munajat

Ya Allah…

Betapa besarkah dosaku hingga Kau tidak mau menghapusnya?

Betapa keraskah hatiku hingga Kau tidak sudi melembutkannya?

Betapa hitamkah jiwaku hingga Kau enggan membersihkannya?

Betapa busukkah perbuatanku hingga Kau berpaling dariku?


Allahu Rabbi…

Kehinaanku tak berarti bila dibandingkan kemuliaan-Mu,

Kekerdilanku tak bermakna bila dibandingkan kebesaran-Mu,

Kelemahanku takkan pernah menyamai kekuasaan-Mu,

Kebodohanku belum apa-apa dibandingkan kesempurnaan-Mu,

Kerendahanku terlalu jauh dari kesucian-Mu,

Banyaknya dosaku tak bisa dibandingkan dengan limpahan rahmat-Mu,

Sedikit syukurku tak mungkin disejajarkan dengan anugerah berkah-Mu.


Allah…

Sungguh, diriku ada dalam genggaman-Mu.

Andai Kau remukkan belulang ini,

Kau kupas seluruh kulit tubuh,

Kau hunjamkan besi panas neraka pada mata yang senang memandang sia-sia,

Kau tumpahkan lahar pada mulut penuh dusta,

Kau sumpalkan nanah neraka yang bergolak pada telinga yang sering mendengar hal percuma,

Kau cabik-cabik badan yang gemar sekali berbangga…

Maka itu semua belum cukup untuk menyeka noda kehidupan yang telah diperbuat…

Kecuali dengan Kasih Sayang-Mu yang meliputi segala sesuatu,

Hanya dengan cinta-Mu yang menggetarkan segala qalbu,

Hingga betapapun kejinya diriku,

Pasti Kau penuhi dengan nada-nada suci

Yang terlantun memenuhi relung-relung jiwa gelapku…